Rabu, 19 Mei 2021
KOTA KAUM YAHUDI
Sabtu, 25 April 2020
TERCELANYA AMBISIUS DAN TERPUJINYA MERASA CUKUP
#firibook -- Sebuah kitab Mukhtashor Minhajil Qashidin yang ditulis Imam Ahmad Ibnu Qudamah Al Maqdisi. Dalam ¼ kitab yang ketiga membahas Bab Hal Membinasakan.
Berkata Al Imam :
Tercelanya ambisius dan ketamakan dan terpujinya merasa cukup dan tidak berharap harta orang lain.
Ketahuilah bahwa kefakiran atau kepapaan itu adalah sesuatu yang terpuji. Akan tetapi hendaknya orang yang fakir dia memiliki sifat qonaah merasa cukup.
Maka jika orang miskin dan fakir yang tidak memiliki sifat qonaan maka bisa menyeret orang tersebut ke dalam hal tercela.
Akan terpuji jika seseorang terutama orabg miskin yang qonaah dan tidak berharap pemberian dari harta yang dimiliki orang lain. Tidak menoleh sedikit pun kepada harta orang lain.
Tidak melikan kata orang. Yakni jika melihat harta orang lain ingin juga miliki seperti itu.
Akan terpuji pula jika tak ambisius untuk mendapatkan harta. Yang pikiran dan hatinya hanya tertuju pada uang dan uang. Tidak peduli bagaimana caranya.
Merasa cukup. Inilah sepantasnya kondisi terbaik seseorang.
Kemudian Ibnu Qudamah mengatakan, semua ini hanya bisa tercapai, memungkinkan dia untuk tetap terpuji ketika dia qonaah merasa cukup dengan kadar yang bisa memenuhi kebutuhannya yang bersifat darurat berupa makanan dan pakaian.
Orang fakir akan bahagia jika dia memiliki hati yang ridho dan rela terhadap pemberian Allah ta alla.
Dan sungguh Rasulullah memuji orang yang memiliki sifat qonaah. Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Umar.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْن الْعَاصِ c أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ.
Rasulullah bersabda "Sungguh amat beruntung orang memeluk agama Islam lalu diberi rejeki dan sifat qana'ah terhadapnya."
Beruntung Karena tidak semua orang mampu memiliki sifat tersebut. Karena tabiat dasarnya manusia menginginkan lebih dan lebih.
Sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)
Jika masih hidup ambisinya terus mengejar.
Dalam hadits lain ",
يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ
“Ada yang sudah tua dari usia, namun masih bernafsu seperti anak muda yaitu dalam dua hal: tamak pada harta dan terus panjang angan-angan (ingin terus hidup lama).”
Padahal sekuat apapun usaha kita. Sebesar apapun ambisi kota tak akan mengubah jatah rejeki kita yang Allah berikan.
Kata Abdullah bin Masud "Orang ambisius tak akan mendapatkan yang memang bikan jatah dia."
Maka beruntunglah orang yang memiliki hati qonaan. Bahkan dalam hadits orang kaya bukanlah yang memiliki banyak harta akan tetapi kekayaan jika seseorang memiliki kaya hati.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya kemewahan dunia, akan tetapi kekayaan hakiki adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)” [HR. Bukhari: 6446; Muslim: 1051].
Inilah yang dikejar yakni terus merasa ridho terhadap pemberian Allah.
Selanjut Al Imam menukil ucapan Nabi Sulaiman "Sungguh kami telah merasakan dan coba semua bentuk kehidupan (lembut dan keras) ternyata kami dapati bahwa kehidupan yang paling rendah saja itu sudah mencukupi.
Jika kita hadapi kerasnya hidup dengan jiwa qanaah maka sudah cukup mengarungi dunia ini, menikmati kebahagiaan hidup.
Hadits Jabir menyebutkan "Al Qanaah adalah harta yang tidak pernah habis." Walau dhoifkan oleh Syaikh Al Bani radiyallahuanhu.
Kata Bihajim rahimallah "Ada tiga perangai yang barangsiapa memiliknya maka sempurnalah akal orang tersebut yakni seorang yang mampu mengenal kadar dirinya
(Yakni kelemahan dirinya, siapa sih dirinya. Sebuah atsar mengatakan "Semoga Allah merahmati seorang yang paham kadarnya).
Kedua orang yang menjaga lidahnya dan ketiga merasa cukup atas rejeki yang Allah berikan."
Kata sebagian ahlul hikmah "Engkau senantiasa menjadi orang mulia selama engkau berselubung dengan sifat qanaah."
Dan adalah Wahab ibnu Munabi tatkala beliau menjelaskan firman Allah balasan kepada orang beriman baik laki dan perempuan, "Maka kami akan beri kehidupan yang baik."
Apa itu kehidupan yang baik itu ? Bukan kehidupan yang dilapangkan rejeki, bergelimang harta. Bukan. Tapi kehidupan yang baik yakni kehidupan yang ditapaki dengan jiwa yang qanaah.
Kemudian Al Imam berkata :
Adapun Al Hirs atau ambisius yakni tak merasa puas selalu merasa kurang. Sudah dapat kedudukan masih ingin yang lebih tinggi, sudah miliki harta masih ingin yang lebih banyak, terus korupsi tetap ambisi kejar jabatan, berletih dan berpayah demi mengejar harta.
Maka ambisius itu sesuatu yang Rasulullah larang. "Wahai sekalian manusia carilah rejeki dengan cara baik. Karena seseorang tak akan mendapatkan sesuatu yang bukan untuknya."
Mari serius mencari rejeki tapi tetap dalam koridor syariat. Karena semuanya sudah ditetapkan ukurannya. Bukan dari berletih-letih. Karena tidak akan merubah sesuatu yang Allah telah tetapkan untuk dirinya.
Dan juga Rasulullah telah melarang dari ketamakan.
"Kumpulkan keputusasaan terhadap harta di tangan manusia". Tak usah ingin selalu memiliki seperti milik orang lain. Fokus terhadap milik sendiri dan berprasangka baik, bahwa itulah yang terbaik baginya. Bisa jadi jika memiliki harta bergelimang akan lupa daratan.
Sebagian salaf berkata kalaulah sifat ketamakan ditanyakan
"Siapa bapakmu?". Maka ketamakan akan menjawab "Keraguan terhadap rejeki yang ditakdirkan."
"Apa pekerjaanmu?" Yakni menghinakan diri
"Apa hasil yang engkau dapatkan?" Maka tidak akan mendapatkan apapun.
Inilah kerugian memiliki ketamakan. Tak akan mendapatkan kebaikan sedikitpun bagi seseorang.
Kemudian Al Imam menutup penjelasannya dengan mengutip perkataan seorang salaf, "Ketamakan itu menghinakan penguasa dan sebaliknya keputusasaan terhadap harta orang lain justru akan berikan kemuliaan bagi orang miskin."
Orang memiliki sifat qanaan merupakan penguasa dunia. Sebagaimana kata Imam Syafii "Jika engkau memiliki hati qanaan sesungguhnya engkau dan penguasa dunia sama."■
*) Dari kajian online ORIENTASI MUSLIM SEJATI. Sekelumit Sikap Pertengahan Pengarahan, serta Terapi tentang Harta-Kedudukan-Jabatan dalam Kitab Mukhtashor Minhajil Qashidin kleh Ust Zubair Sutarso
Kamis, 02 Januari 2020
JENIS JUAL BELI TERLARANG
Imam Ahmad meriwayatkan dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah aku telah banyak melakukan jual beli, manakah jual beli yang di halalkan untukku dan mana yang di haramkan?’ Lalu beliau menjawab:
إِذَا اشْتَرَيْتَ شَيْئًا فَلاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ.
‘Apabila engkau membeli sesuatu, maka janganlah engkau menjualnya kembali sampai engkau menerima (barang tersebut).’
لاَ يَبِعِ الرَّجُلُ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلاَ يَخْطُبْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ إِلاَّ أَنْ يَأْذَنَ لَهُ
“Janganlah seseorang menjual di atas jualan saudaranya. Janganlah pula seseorang melamar di atas khitbah saudaranya kecuali jika ia mendapat izin akan hal itu.” (HR. Muslim)
Rabu, 25 Desember 2019
6 NASIHAT INDAH BAGI PEMUDA DAN MAHASISWA
■ Dari Tabigh Akbar: Mahasiswa, Antara Tantangan dan Harapan (2)
#firibook -- Begitu banyak perhatian Allah dalam Quran dan harapan Rasulullah dalam haditsnya kepada para pemuda. Maka seorang pemuda dan mahasiswa sepatutnya memahami bahwa
1. Sadari umur dan waktu muda sebagai amanah
Sebagaimana hadits ari sahabat Abu Barzah, telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga Allah akan menanyakan tentang (4 perkara:)
(Pertama,) tentang umurnya (usia mudamu) dihabiskan untuk apa. (Kedua,) tentang ilmunya diamalkan atau tidak. (Ketiga,) Tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan. (Keempat,) tentang tubuhnya, capek / lelahnya untuk apa.” (HR Tirmidzi dan Tirmidzi berkara hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah.)
Hadits ini menunjukkan nikmat usia muda sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah juga bersabda dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Banyak anak muda yang melalaikan usianya padahal tak ada jaminan dia akan hidup besok. Padahal di usia muda banyak pintu ketaatan terbuka. Walau tantangan besar karena kecenderungan usia muda yang lebih suka trend yang cenderung menjerumuskan pada dosa dan maksiat.
Maka siapkan langkah membentengi diri dan istiqomah dengan menyadari usia muda sebagai amanah dan nikmat.
2. Mari menjadi anak muda ideal.
Dalam surah al kahfi disebutkan sifat dan ciri anak muda ideal. Allah berfirman
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Kami menceritakan kepadamu kisah mereka secara haq (benar). Sesungguhnya mereka adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Rabb mereka kemudian Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.
Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa pemuda ideal itu
1. Miliki sifat keimanan, maka
2. Allah beri mereka petunjuk dan
3. Allah akan tetapkan keistiqamahan
Saat ini banyak pemuda menjadi santapan empuk orang yang hendaki kerusakan, berupa doktrin dan pemahaman radikal. Keadaan ini terjadi karena adanya aqidah yang menyimpang.
Allah memberi jaminan bahwa apa yang menjadi kebiasaan baik di usia muda akan menjadi penjaganya di usia tua.
Karena syubhat saat ini banyak yang dengan mudah menguasai dan mempengaruhi pemuda.Karena pemuda memiliki semangat berapi-api tapi kurang ilmu.
Radikalisme yang menjangkiti pemuda dan mahasiswa biasanya bertahap diindoktrinasika yakni
● Melalui cara belajar yang salah. Tidak dari guru yang jelas.
● Diberi doktrin benci kepada ulama yang sebenarnya.
● Membuat pemuda/mahasiswa benci dan membangkang kepada pemerintah.
● Setelah jauh dari agama, membenci ulama dan membangkang pada pemerintah maka mudahlah dimasukkan doktrin di antaranya melalui doktrin jihad yang salah.
Ciri seorang pemuda yang sudah terjangkit radikalisme di antaranya kerap memuji tindakan terorisme dan bergaul dengan pihak yang berciri di antaranya tak mengakui pemerintah dan mengkafirkan semua unsur terkait pemerintah.
Ada 3 perkara menurut Rasulullah yang hati seorang muslim tidak akan ada penyakit padanya jika
● Dia ikhlas beribadah kepada Allah
● Dia mentaati pemerintah
● Dia berkomitmen dengan jamaah kaum muslimin
3. Bangunlah bangunan ilmiah yang benar pada diri.
Melalui tangga-tangga keilmuan yang sistematis. Jika tidak maka akan merusak. Sebagaimana kerusakan bersumber pada 4 hal
a. Pemahaman Islam setengah maka rusak aqidah
b. Pemahaman fiqih hanya setengah maka rusak kehidupan masyarakat
c. Pemahaman ilmu kedokteran setengah maka rusak badan
d. Pemahaman bahasa Arab setengah maka rusak lisan.
4. Ambillah ilmu dari orang berpengalaman.
Bahwa kelulusan dari universitas harus dipahami sebagai awal menaiki tangga keilmuan. Untuk menjadi seorang ahli maka bergaul dengan orang berpengalaman.
Sebagaimana ungkapan di Arab "Anak unta usia 2 tahun jika tak bergaul dengan unta usia 8 tahun maka tak akan bisa menghadapi unta penganggu yang berusia 4 tahun."
Banyak pemuda berbicara pada hal yang tak dipahaminya.
5. Teguhlah di atas prinsip yang benar
Pemuda yang baik yakni pemuda yang tidak mudah terserat padahal yang belum dipastikan kebenaran.
Sebagaimana hikmah dari cerita Imam Malik yang didatangi oleh seorang yang miliki pemikiran menyimpang. Mengajak berdebat sang Imam dan Imam Malik mengusirnya.
(Kisah lengkapnya sebagaimana #firibook kutip dari laman aslibumiayu.net di bawah ini)
Ma’n rahimahullah berkata: “Pada suatu hari Imam Malik ibn Anas berangkat ke masjid sambil berpegangan pada tangan saya, lalu beliau dikejar oleh seseorang yang dipanggil dengan Abu al-Juwairah yang dituduh memiliki Aqidah Murji’ah.
Dia berkata: “Wahai Abu Abdillah dengarkanlah dariku sesuatu yang ingin saya kabarkan kepada anda, saya ingin mendebat anda dan memberi tahu anda tentang pendapatku.’
Imam Malik berkata, “Hati-hati, jangan sampai aku bersaksi atasmu.” Dia berkata, “Demi Allah, saya tidak menginginkan kecuali kebenaran. Dengarlah, jika memang benar maka ucapkan.”
Imam Malik bertanya, “Jika engkau mengalahkan aku?” Dia menjawab, “Maka ikutlah aku!” Imam Malik bertanya lagi, “Kalau aku mengalahkanmu?” Dia menjawab, “Aku mengikutimu?”
Imam Malik bertanya, “Jika datang orang ketiga lalu kita ajak bicara dan kita dikalahkannya?” Dia berkata, “Ya kita ikuti dia.”
Imam Malik rahimahullah berkata: “Hai Abdullah, Allah azza wa jalla telah mengutus Muhammad dengan satu agama, aku lihat engkau banyak berpindah-pindah (agama), padahal Umar ibnu Abdil Aziz telah berkata, “Barangsiapa menjadikan agamanya sebagai sasaran untuk perdebatan maka dia akan banyak berpindah-pindah.”
Imam Malik rahimahullah berkata ”Jidal dalam agama itu bukan apa-apa (tidak ada nilainya sama sekali).”
Imam Malik rahimahullah berkata “Percekcokan dan perdebatan dalam ilmu itu menghilangkan cahaya ilmu dari hari seorang hamba.”
Imam Malik rahimahullah berkata “Sesungguhnya jidal itu mengeraskan hati dan menimbulkan kebencian.”
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki ilmu sunnah, apakah ia boleh berdebat membela sunnah?
Dia menjawab, ”Tidak, tetapi cukup memberitahukan tentang sunnah.” (Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Qadhi Iyadh: 1/51; Siyarul A’lam: 8/106; al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, hal.62-65)
6. Berakhlak wahai pemuda.
Wallahuallam (fir/habis)
*) Sumber dari catatan on the spot pada
INILAH SANJUNGAN ALLAH DAN PERHATIAN RASULULLAH PADA PEMUDA
■ Dari Tabligh Akbar Mahasiswa Antara Tantangan dan Harapan (1)
#firibook -- Mahasiswa merupakan salah satu pondasi tegakkan negeri. Mereka yang akan menjadi pemimpin esok.
Pembentukan karakter salah satu komponen penting bagi generasi muda pengukir sejarah. Mereka yang tidak terbawa dan diombang-ambing oleh trend belaka. Tapi memiliki pegangan dari ilmu yang telah diyakini kemanfaatanya. Inilah sifat dari para pengukir sejarah.
Jika ada masalah yang disikapi mahasiswa mari selesaikan dengan cara yang sesuai syariat. Tidak dengan cara yang melanggar ketentuan quran dan sunnah.
Seorang mahasiswa/pemuda harus mengingat bahwa Allah memberi anugerah dan nikmat besar kepada mereka. Maka kewajibannya mensyukuri dan gunakan pada tempatnya usia, semangat, kesempatan dan tenaga mudanya.
Allah ta'alla menyinggung khusus pemuda dalam Quran. Pemuda Allah dipuji dalam surah al Kahfi. Surah al Kahfi dianjurkan dibaca di malam dan hari Jumat karena banyak pelajaran terkandung di dalamnya.
Di akhir surah al Kahfi disebut pula seorang pemuda yang diperintah kepada Nabi Khaidir untuk dibunuh. Agar tergantikan dengan anak shalih.
Ini antara lain perhatian Allah terhadap pemuda dalam quran. Dan Rasulullah pun demikian. Malah dalam sebuah kisah pada masa Rasulullah ada kelompok pemuda khusus yang merupakan ahli quran yang disebut sebagai al Quro.
Rasulullah mendidik dengan pendidikan luar biasa kepada mereka, dengan pembentukan karakter selain pembentukan akademik. Rapi dan teratur
Imam Ahmad dalam sunannya
عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Maksudnya, iman yang dipelajari adalah karakter dasar itulah aqidah yang benar. Kemudian dengan pelajari quran bertambah keimanan.
Dalam sebuah hadits
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ ص يَوْمًا، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ، اِنّي اُعَلّمُكَ كَلِمَاتٍ، اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، اِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَ اِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَ اعْلَمْ اَنَّ اْلاُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى اَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ اِلاَّ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَ اِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى اَنْ يَضُرُّوْكَ لَمْ يَضُرُّوْكَ اِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلاَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ. الترمذى 4: 76، رقم: 2635، هذا حديث حسن صحيح
Dari 'Ibnu 'Abbas, ia berkata : Pada suatu hari aku berada di belakang Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, "Wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat.
Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya di hadapanmu.
Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah bahwasanya suatu ummat (sekumpulan orang) seandainya berkumpul untuk memberi manfa'at kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat memberikan manfa'at kepadamu, melainkan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.
Dan jika mereka berkumpul untuk memudharatkan kamu dengan sesuatu, nicaya tidak akan dapat memberikan madlarat kepadamu, melainkan sesuatu yang telah Allah tetapkan kepadamu. Pena telah diangkat, dan shuhuf telah kering". [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 76, no. 2635]
Pemuda sangat membutuhkan kalimat yang memotivasi dan akan merubah hidupnya.
Juga nasihat Rasulullah kepada pemuda dalam sebuah hadits bahwa di akhirat kelak tidak ada naungan kecuali kepada 7 golongan. Salah satu golongan yang dimaksud yakni pemuda yang tumbuh di dalam beribadah kepada rabbnya
Maka seorang pemuda harus paham di setiap aktivitasnya untuk tak keluar dari beribadah kepadaNya.
Perhatian lain Rasulullah kepada pemuda juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: “Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).'”
Inilah sebagian dari hadits yang memberi perhatian kepada pemuda.(fir/bersambung)
Sumber :
Senin, 23 Desember 2019
INGATLAH SELALU PEMUTUS LEZAT DUNIA
■ 10 Kiat Mensucikan Jiwa (4 Habis)
#firibook -- Empat kiat terakhir dari 10 kiat mensucikan jiwa yang disampaikan Ust Abu Ahmad Kasman yakni perbanyak mengingat kematian, memilih teman duduk yang baik, waspada dan hati-hato dari ujub, serta yang terakhir mengenali diri.
Berikut uraiannya :
7. Banyak ingat kematian
Rasulullah memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat penghancur kelezatan yakni almaut dalam haditsnya dari Abu Hurairah, yang diriwayatkan. Ashabus Sunan, dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’.
أَكْثِرُوا ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ –يَعْنِي الْمَوْتَ
Karena kata Rasulullah
فَمَا ذَكَرَهُ أَحَدٌ فِي سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ، وَلَا فِي ضَيْقٍ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ
“Tidaklah seseorang mengingat mati pada waktu lapang hidupnya, kecuali akan menjadikan dia merasa sempit (umurnya terasa pendek dan semakin dekat ajalnya). Dan tidaklah (dia mengingat mati) pada waktu sempit hidupnya (karena sakit, fakir, dll) kecuali akan menjadikan dia merasa lapang (karena mengharapkan balasan dari Allah dengan sebab keikhlasan dan kesabaran ketika menghadapinya).” (HR. Ibnu Hibban, Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Al-Irwa’ [no. 682] bahwa sanadnya hasan)
Maka jadilah dunia tak ada nilai di matanya orang yang selalu mengingat mati. Maka ia akan senantiasa melakukan kebaikan dan ketaatan.
8. Memilih teman duduk yang baik
Berdasar firman Allah Ta’ala dalam surah Al Kahfi: 28
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ …
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka ...”
Ayat ini merupakan perintah berteman orang-orang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
Makna dari hadits ini memerintahkan jangan menjadikan teman dekat seseorang kecuali kalian ridhoi amal dan agamanya.
Karena seorang teman akan menuntun kalian sama dengan mereka dan pemahaman yang mereka miliki. Tapi jangan kalian tertipu dengan diri (iman) kalian lalu berteman dengan seorang yang tidak kalian ridhoi agama mereka.
9. Waspada dan hati-hati dari uzub dan tertipu dengan diri
Allah berfirman janganlah kita tazkiyah (anggap diri) bertaqwa, Allah ta’ala berfirman,
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm:32)
Karena orang yang uzub biasanya akan malas lakukan kebaikan (dan selanjutnya akan mudah terjerumus pada keburukan) yang selanjutnya akan kotori jiwanya. Sedangkan orang merasa kekurangan maka akan terus lakukan kebaikan.
10. Mengenali diri/jiwa
Allah sifatkan jiwa dalam quran ada 3 jenis.
1. Nafsu mutmainnah. Dalam quran "Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
Maka selalulah melakukan kebaikan dan kewajiban serta menjauhi dosa.
2. Jiwa yang menyesal. Jiwa ini dimiliki seseorang yang kadang melakukan kebaikan kadang tidak. Dan melakukan kewajiban tapi sunnah tidak.
3. Jiwa yang memerintah pada perkara yang jelek haram dan dosa. Sebagaimana dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb ku. Sesungguhnya Rabb ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Yûsuf/12:53].(fir)
*) Sumber
IKUTI SUNNAH JAUHI LARANGAN
■ 10 Kiat Membersihkan Jiwa (3)
#firibook -- Kiat membersihkan jiwa yang keempat yakni menjadikan Rasulullah sebagai teladan, kiat kelima bertaqwa, dan kiat keenam menutup pintu terjerumus pada kemaksiatan. Berikut uraiannya :
4. Menjadikan Rasulullah sebagai teladan
Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini sebagai pondasi meneladani Rasulullah di dalam ucapannya, perbuatannya, hukum dan keadaannya.
Al Hasan al Basri berkata ada suatu kaum mereka mengatakan kami cinta kepada Rabb kami kemudian Allah menurunkan ayat katakanlah jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah Rasulullah maka Allah akan cinta kepada kalian bahkan Allah ampuni dosa kalian.
Maka mengikuti sunnah Rasumullah menunjukan cintanya seseorang kepada Allah. Mengikuti Rasul sebagaimana mengobati penyakit badan dengan berobat menggunakan dan mengikuti tindakan maupun obat yang diresepkan oleh dokter.
Ibnul Qayiim menggambarkan ikhtiar membersihkan jiwa lebih susah dari pada mengobati penyakit badan. Maka wajib bagi yang ingin membersihkan jiwanya dengan mengikuti perintah rasul dan menghindari perkara amalan baru.
5. Bersihkan diri dari perkara dosa/perbuatan maksiat serta beramal kebaikan dan ketaatan.
Berdasar firman Allah ta'alla dalam surat At-Taubah Ayat 103
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dahulukan membersihkan jiwa dari dosa lalu hiasi dengan perbuatan kebaikan. Rasulullah menjelaskan (dalam Hadits Tirmidzi no 3257
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ { كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ } قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
… dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] beliau bersabda: "Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang diistilahkan "Ar raan" yang Allah sebutkan: kallaa bal raana 'alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.(QS. Almuthaffifin 14). Ia berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih.
6. Menutup pintu yang akan keluarkan seseorang dari lingkaran tazkiyah kepada dosa.
Jika memiliki akun Facebook diyakini akan jatuhkan pada dosa maka sebaiknya ditutup. Ini salah satu contoh perkara menutup pintu yang akan menjauhkan dari keutamaan dan mendekatkan pada kerendahan.
Dijelaskan Rasulullah (Hadits Tirmidzi Nomor 2786)
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الْكِلَابِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ ضَرَبَ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا عَلَى كَنَفَيْ الصِّرَاطِ زُورَانِ لَهُمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ عَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ وَدَاعٍ يَدْعُو عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ وَدَاعٍ يَدْعُو فَوْقَهُ { وَاللَّهُ يَدْعُوا إِلَى دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ } وَالْأَبْوَابُ الَّتِي عَلَى كَنَفَيْ الصِّرَاطِ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا يَقَعُ أَحَدٌ فِي حُدُودِ اللَّهِ حَتَّى يُكْشَفَ السِّتْرُ وَالَّذِي يَدْعُو مِنْ فَوْقِهِ وَاعِظُ رَبِّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ قَالَ سَمِعْت عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُولُ سَمِعْتُ زَكَرِيَّا بْنَ عَدِيٍّ يَقُولُ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ الْفَزَارِيُّ خُذُوا عَنْ بَقِيَّةَ مَا حَدَّثَكُمْ عَنْ الثِّقَاتِ وَلَا تَأْخُذُوا عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ عَيَّاشٍ مَا حَدَّثَكُمْ عَنْ الثِّقَاتِ وَلَا غَيْرِ الثِّقَاتِ
… dari [An Nawwas bin Sam'an Al Kilabi] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah membuat perumpamaan jalan yang lurus, di atas dua tepi jalan ada dua tembok, pada keduanya ada beberapa pintu terbuka, pintu-pintu itu bertirai dan di setiap penghujung jalan ada penyeru yang meyeru manusia dan penyeru yang menyeru di atasnya
Dan Allah menyeru menuju negeri keselamatan, memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki menuju jalan yang lurus.
QS Yunus; 25 Pintu-pintu yang ada di sisi jalan adalah batasan-batasan Allah, karenanya janganlah ada seorang pun yang jatuh di batasan-batasan Allah hingga tirai terbuka, sementara yang menyeru dari atasnya adalah penyeru Rabbnya."....
Ibnu Hazar berkata siapa yang keluar dari jalan istiqomah dan dia membuka pintu keharaman maka dia masuk kepada subhat dan syahwat. Maka dia akan ditarik dengan semacam besi dari jalannya.
Maka dalam quran di antara contoh menurit Syaikh Abd Rozak "Katakan kepada orang beriman supaya mereka tundukkan pandang mereka dan jaga kehormatan mereka dan itu lebih suci dan Allah lebih mengetahui
Ibnu hiban msnjelaskan didahulukan menundukkan pandangan arena pandangan merupakan washila.(fir/bersambung)
*) Sumber :
Minggu, 22 Desember 2019
PERBANYAK DOA DAN MEMBACA QURAN PINTU SEGALA KEBAIKAN
■ 10 Kiat Membersihkan Jiwa (2)
#firibook -- Kiat kedua dan ketiga membersihkan jiwa menurut Ust Abu Ahmad Kasman dalam Tabligh Akbar di Mushollah Al Haudh Jl Ratulangi Makassar, belum lama ini yakni perbanyak doa dan membaca quran. Berikut uraiannya
2. Perbanyak Doa
Kunci bersihkan jiwa kedua yakni doa. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَيْسَ شَىْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ»
“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” (HR. At Tirmidzi).
Dikatakan sebagai ibadah yang mulia karena orang berdoa menampkan dirinya ia lemah, butuh kepada Allah, tak memiliki apa-apa, dan menganggal anggap Allah Maha Kuat, perkasa, maha kaya, segala bentuk nikmat itu dari Allah.
Doa juga merupakan pintu segala kebaikan pada diri seorang hamba. Maka mintalah dan Allah telah berjanji untuk kabulkan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina [Al-Mu’min/Ghafir/40: 60].
Maka tidak ada ruginya orang berdoa. Pasti Allah kabulkan. Hanya saja bentuk pengkabulannya berbagai macam
1. Langsung dikabulkan
2. Tidak dikabulkan tapi diganti dengan yang lebih baik
3. Tak dklabulkan d idunia tapi di akhirat pasti didapatkan
Di kalangan shahabat jika mereka mendengar janji maka mereka akan menunaikan. Umar bin Khatab berkata "Saya tak pentingkan doa saya dikabulkan atau tidak namun yang penting bagaimana saya berdoa"
Karena izabah/terkabulkannya itu bersama dengan doa itu.
Ada doa yang sering dawamkan dan diajarkan Rasulullah untuk bersihkan jiwa
اللّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا
أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku ketakwaaan jiwa dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik Rabb yang mensucikannya, Engkau pelindung dan Pemeliharanya.[HR. Muslim]
Atau do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Dari doa ini bisa kita pahami bahwa kehendak Allah adalah kunci segala kebaikan seorang hamba. Bahwa "Sekiranya bukan karena keutamaan Allah atas kalian untuk selamanya tidak akan ada diantara kalian yang suci, akan tetapi Allah yang sucikan jiwa orang yang dia kehendaki"
Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini dengan penjelasannya bahwa tidak ada makhluk yang dapat hidayat dan terlepas dari keburukan selain karena rahmat Allah.
3. Al Quranul Karim
Perbanyak membaca, memahami dan mengamalkan isi al quran merupakan pondasi dasar membersihkan jiwa.
Allah menyatakan dalam Surat Ali 'Imran Ayat 164
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Bukan hanya jiwa, penyakit jasad badan pun bisa disembuhkan dengan al quran. Sebagaimana Allah berkata dalam Surat Yunus Ayat 57
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Penyakit hasad, riya dan dengki juga obatnya quran. Ibnu Qayim nyatakan alquran merupakan penyembuh sempurna dari seluruh penyakit hati dan penyakit badan (karena banyak pikiran), penyakit dunia maupun akhirat.
Mereka yang dapat manfaat dari quran yakni yang benar-benar membaca quran dengan sebenar bacaan. Mereka beriman kepadanya
Membaca al quran yang sebenarnya yakni
Membaca lafal dalam mushab semata.
Membaca aknawiyah yakni dipahami makna (kandungan) lalu diamalkan. Ini yang merasakan manfaat quran.
Para shahabat jika mereka mempelajari quran, hanya 10 ayat dan tak melewati sebelum mengetahui kandungan dan mengamalkannya.(fir/bersambung)
*) Sumber :KESYIRIKAN MENGOTORI JIWA
■ 10 Kiat Mensucikan Jiwa (1)
#firibook -- Ciri hati yang selamat itu jika selamat dari
1. Selamat dari subhat
2. Selamat dari syahwat. Syahwat merupakan keinginan jiwa yang selalu berkeinginan pada hal yang rendah dan hina serta bertentangan dengan sunnah, bertentangan dengan perintah Allah ta'alla dan Rasulullah sallahu alaihi wa sallam.
3. Selamat ubidiyah (ibadah) selain dari Allah. Semisal dari perkara riya. Tanda ilmu bermanfaat ketika seorang berilmu benci untuk dipuji. Benci membanggakan diri, takabur dan uzub.
4. Selamat dari berhukum kepada yang selain hukum Allah ta'alla.
Keempat jenis manusia dengan ciri hati inilah yang selamat menghadap Allah. Bagaimana kiat agar memiliki hati yang selamat dan jiwa yang bersih ?
Berikut 10 perkara yang membersihkan jiwa :
1. Bertauhid
Allah menyatakan dalam quran Surat Az-Zariyat Ayat 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."
Juga dalam Surat An-Nahl Ayat 36
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Tauhid merupakan perkara yang paling utama bagi seorang mukmin. Sebagaimana ketika Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal dalam Hadits Nasai Nomor 2475
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ قَالَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ إِسْحَقَ وَكَانَ ثِقَةً عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَيْفِيٍّ عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمَا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُوضَعُ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حِجَابٌ
… dari [Ibnu 'Abbas] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Mu'adz bin Jabal ke negeri Yaman, lalu beliau bersabda: " Engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah.
Jika mereka menaatimu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah -Azza Wa Jalla- mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam.
Jika mereka menaatimu, beritahukanlah bahwa Allah -Azza Wa Jalla- mewajibkan atas mereka sedekah pada harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir diantara mereka.
Jika mereka menaatimu dalam hal itu, jauhilah oleh kamu dari harta mereka yang paling berharga, dan takutlah terhadap do'a orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang di antara doa tersebut dan Allah -Azza Wa Jalla-."
Maka Allah mengancam orang yang tak bersihkan jiwanya dari kesyirikan dan kekafiran.
Syaikh Ibnu Tsaimin berkata tauhidkan keimanan maka hati bisa bersih dengannya. Maknanya dengan meniadakan sesembahan selain dari yang tak benar dari hatinya, kemudian menetapkan ilahiyah kepada Allah.
Sebagaimana tauhid bisa bersihkan jiwa maka kesyirikan bisa kotori hati dan menghapus amalan seseorang. Karena kotornya jiwa musyrik maka Allah haramkan pelaku kesyirikan masuk surga.
Dan orang yang merealisasikan tauhidnya mereka mendapatkan keamanan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” [al-An’am/6 : 82].(fir/bersambung)
*) Dari catatan in the spot Tabliq Akbar Al Haudl disampaikan oleh Ust Abu Ahmad Kasman
Sabtu, 14 Desember 2019
HATI-HATI MEMINTA TOLONG
#firibook -- Meminta tolong atau Isti'azha dalam kitab "Tiga Landasan Utama" karya Syaikh Shaleh Ibnu Tsaimin dijelaskan pembagiannya. Ada 4 jenis isti'azha. Simak sebagaimana dijelaskan Ust Abu Yahya Jamaluddin dari kajian rutin Jumat malam di Masjid Nur Intan Lestari, Daya.
1. Minta tolong kepada Allah yang mengandung ketundukan yang sempurna dan bentuk merendahkan diri sebagai seorang hamba kepada Allah karena dia merasa lemah dan hina dan tak yakin mampu menunaikanya.
Dan berkeyakinan Allah mampu memenuhi kebutuhannya. Allah bisa mencukupinya. Pemintaan tolong yang disertai ketundukan hanya boleh kepada Allah, tidak boleh kepada selainya.
Inilah yang dimaksudkan dalam ayat Al Fatihah
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Dalam ayat ini Allah mendahulukan objek. Hal ini mengandung makna isistiazha yang khusus dan dibatasi kepada Allah saja.
Jika permintaan tolong selain kepada Allah untuk jenis istiazha ini (walau pun termasuk kepada orangtua, hanya orangtua yang bisa memenuhi keinginan) maka menjadi bentuk kesyirikan.
2. Meminta tolong kepada makhluk. Dalam perkara yang dia (kepada yang dimintai tolong) mampu. Maka jenis pertolongan ini diperbolehkan.
Dan disyariatkan kepada orang yang dimintai tolong untuk menolong selama dia sanggup
Sebagaimana Allah perintahkan dalam sambungan ayat 2 surah Al Maidah
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Ayat ini menjelaskan bahwa inta tolong dalam perkara dosa maka hukumnya haram atau tidak boleh dilakukan baik meminta maupun yang menolong sama-sama berdosa.
Namun jika terkait keselamatan jiwa diperbolehkan. Dan jika dalam perkara yang mubah maka hukumnya boleh. Baik yang minta maupun yang dimintai tolong.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,(QS Attaubah 120).
Orang minta tolong ada 2 keadaan
Lisannya meminta
Keadaan yang menunjukkan dia ingin minta tolong. Maka tolonglah.
3. Meminta tolong kepada makhluk masih hidup (dia tak mampu sebenarnya) maka ini kesiasiaan.
Contoh meminta tolong orang lemah dan kuat untuk mengangkat sesuatu yang berat maka tidak boleh
4. Permintaan tolong kepada orang mati, tapi melalui orang hidup tapi tak ada di tempat sehingga tak mampu melakukan. Maka permintaan tolong jenis ini dihukumi syirik.
Karena tidak mungkin seseorang dimintai tolong padahal tak ada, hal itu tentunua didorong oleh keyakinan orang yang dimintai tolong memiliki kekuatan istimewa.
5. Permintaan tolong dengan perantaraan amal dan hal yang dicintai Allah maka diperbolehkan
Contohnya pada surah Al Baqarah : 153
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Yakni dengan sabar dan shalat. Orang sabar dicintai Allah.(fir)
*) Kutipan ayat dan hadits dari laman www.tafsirq.com
Jumat, 13 Desember 2019
WAJIB BERDIRI SAAT SHALAT FARDU
#firibook -- Berdiri saat shalat merupakan salah satu rukun shalat fardu. Jika mampu tapi tidak berdiri maka shalatnya batal.
Sebagaimana perintah Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 238
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu
Sedangkan untuk shalat sunnah bisa duduk walaupun mampu. Sebagaimana ketika Rasulullah melakukan syafar ia shalat sunnah saat berkendaraan.
Diperkuat pula oleh hadits dari ibunda Hafsah radyallahuanhu
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ الْمُطَّلِبِ بْنِ أَبِي وَدَاعَةَ عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي سُبْحَتِهِ قَاعِدًا قَطُّ حَتَّى كَانَ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِعَامٍ فَكَانَ يُصَلِّي قَاعِدًا يَقْرَأُ بِالسُّورَةِ فَيُرَتِّلُهَا حَتَّى تَكُونَ أَطْوَلَ مِنْ أَطْوَلَ مِنْهَا
Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah] dari [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari [As Saib bin Yazid] dari [Al Muththalib bin Abu Wada'ah] dari [Hafshah] dia berkata; "Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat sunnah sambil duduk, hingga menjelang setahun sebelum beliau walat, (saat itu) beliau sering shalat sambil duduk, membaca surah Al Qur'an dengan tartil, sampai-sampai beliau memperlama dalam membacanya."
Ulama berbeda pendapat perihal jika kondisi seorang makmun sehat tapi imam dalam keadaan sakit dan memimpin shalat dengan duduk.
Sebagian ulama mengatakan makmun harus duduk pula. Dalilnya hadits Abu Hurairah
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ حَيْوَةَ أَنَّ أَبَا يُونُسَ مَوْلَى أَبِي هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلَّوْا قُعُودًا أَجْمَعُونَ
Telah menceritakan kepadaku [Abu ath-Thahir] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb] dari [Haiwah] bahwa [Abu Yunus maula Abu Hurairah ra] telah menceritakan kepadanya, dia berkata, saya mendengar [Abu Hurairah] Radhiyallahu'anhu berkata dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,
"Imam dijadikan untuk mengimami, apabila dia bertakbir, maka kalian bertakbirlah, apabila dia rukuk, maka kalian rukuklah.
Dan apabila dia mengucapkan, 'Sami'allahu liman hamidahu', maka ucapkanlah, 'Allahumma laka al-Hamdu'.
Dan apabila dia shalat berdiri, maka kalian shalatlah berdiri, dan apabila kalian shalat dalam keadaan duduk, maka kalian shalat dalam keadaan duduklah semuanya."
Jika imam tak mampu maka bisa sholat duduk walau shalat fardu. Dikatakan tidak mampu berdiri maksudnya dia bisa berdiri tapi menahan kesusahan, sempoyongan, sebabkan sakit tambah parah.
Ada 3 cara duduk dalam shalat
1. Seperti duduk di antara dua sujud (iftiraz)
2. Duduk tawaruk tahiyat akhir
3. Duduk bersila
Duduk yang tak diperbolehkan yakni duduk yg ditekuk dan ditempelkan ke perut Rasulullah berkata duduk seperti itu sebagai cara duduk setan, istirahatnya ahli neraka, duduk makhluk buas.
Walau diperbolehkan duduk saat shalat sunnah namun Rasulullah memberi motivasi untuk shalat sesempurna mungkin dalam sebuah haditsnya
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ وَكَانَ رَجُلًا مَبْسُورًا وَقَالَ أَبُو مَعْمَرٍ مَرَّةً عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَهُوَ قَاعِدٌ فَقَالَ مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ نَائِمًا عِنْدِي مُضْطَجِعًا هَا هُنَا
Telah menceritakan kepada kami [Abu Ma'mar] berkata, telah menceritakan kepada kami ["Abdul Warits] berkata, telah menceritakan kepada kami [Husain Al Mu'alim] dari ['Abdullah bin Buraidah] bahwa ['Imran bin Hushain radliallahu 'anhu] adalah seorang yang pernah menderita sakit wasir. Dan suatu kali Abu Ma'mar berkata, dari Hushain yang berkata;
Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang seseorang yang melaksanakan shalat dengan duduk.
Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Siapa yang shalat dengan berdiri maka itu lebih utama.
Dan siapa yang melaksanakan shalat dengan duduk maka baginya setengah pahala dari orang yang shalat dengan berdiri dan siapa yang shalat dengan tidur (berbaring) maka baginya setengah pahala orang yang shalat dengan duduk".
Berkata, Abu 'Abdullah; "Menurutku yang dimaksud dengan tidur adalah berbaring."
Dari hadots di atas menunjukkan ada perbedaan pahala shalat berdiri dan duduk. Dan menjadi permenungan kita sebagian jamaah di Masjidil Haram dan Nabawi bermudah-mudah melakukan shalat dengan duduk karena ada fasilitas kursi yang disiapkan, padahal saat datang ke masjid mampu dengan berjalan kaki.(fir)
*) Catatan on the spot dari kajian rutin Hadits Seputar Sifat Shalat Nabi oleh Ust Budi Haryanto Lc di Masjid Baabuttaubah Daya tiap Rabu pekan 2 dan 4
*) Kutipan hadits dari laman www.tafsirq.com
Rabu, 11 Desember 2019
SAYANG ANAK PEREMPUAN, SURGA BAGI ORANGTUANYA
#firibook -- sebuah hadits dari Aisyah radyallahuanhu bercerita
جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ »
“Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku tidak mempunyai apapun kecuali satu buah kurma.
Lalu akau berikan sebuah kurma tersebut untuknya. Wanita itu menerima kurma tersebut dan membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua anaknya, sementara dia sendiri tidak ikut memakannya.
Kemudian wanita itu bangkit dan keluar bersama anaknya.
Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudia dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka” (H.R Muslim 2629)
Diriwayatkan juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
جَاءَتْنِى مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِى كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِى شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِى صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ »
“Seorang wanita miskin datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya, lalu aku memberinya tiga buah kurma.
Kemudian dia memberi untuk anaknya masing-masing satu buah kurma, dan satu kurma hendak dia masukkan ke mulutnya untuk dimakan sendiri.
Namun kedua anaknya meminta kurma tersebut. Maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dia makan untuk diberikan kepada kedua anaknya.
Peristiwa itu membuatku takjub sehingga aku ceritakan perbuatan wanita tadi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, : Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka” (H.R Muslim 2630)
FAEDAH HADITS
1. Bahwasanya menyayangi anak perempuan, menjaga dan membesarkan dengan penuh kesabaran itu adalah salah satu sebab orangtuanya masuk ke dalam surga.
2. Hadits ini juga mengungkapkan bahwa tidak banyak makanan yang tersedia di rumah istri-istri Rasulullah.
3. Juga menunjukkan keutamaan bersedekah. Sedekah itu akan mensucikan orang yang bersedekah. Juga sebagai bukti akan kebenaran iman yang ada dalam hatinya, maka disebut sadaqah atau membenarkan.
4. Anjuran kepada setiap muslim untuk banyak bersedekah sesuai kemampuannya.
Perhatikan Rasulullah berkata, perbuatan baiķ kepada anaknya wajib baginya meraih surga Allah atau dimerdekakan dari api neraka. Maka nikmat mana lagi selain surga dan terbebas dari neraka.(fir)
*) Dari catatan kajian rutin Kitab Riyadus Shalihin Imam Nawawi oleh Ust Muh Arif bin Abd Rozaq di Masjid Babuttaubah
Senin, 09 Desember 2019
DOAKAN ANAK DAN BERI TELADAN
■ Kaidah Utama Mendidik Anak
#firibook -- Alhamdulillah Allah mudahkan dipertemukan dengan taman-taman surga di sela menghadiri Silaknas ICMI di Padang. Sempat menghadiri taklim "Subuh Mubarak" kegiatan rutin oleh pengurus Masjid Raya Padang, Sumbar, tiap Ahad bada shalat subuh.
Masjid Raya Padang itu loh… yang desainnya kereen dan menjadi ikon baru Padang sekarang. Saudaranya Masjid 99 Menara Losari, karya Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.
Kegiatan keren, bisa diikuti. Usai taklim subuh dilanjutkan sarapan bersama. Nasi goreng kotak siihh. Tapi dasar namanya masakan padang. Nasi gorengnya sama nendangnya dengan makanan terlezat sedunia, Rendang.
Benarlah kata Gubernur Sumatera Barat saat pembukaan Silaknas ICMI di Universitas Negeri Padang (UNP). Di padang hanya ada dua rasa masakan. Enak dan enak sekali.
---000---
Berikut catatan on the spot dari kajian yang disampaikan Ketua Ikatan Dai Sumbar alumni dari Universitas Islam Madinah. Maaf lupa namanya :
Data perkembangan pengidap penyakit dan kelainan jiwa LGBT beberapa kurun waktu terakhir di sejumlah daerah meningkat. Tak terkecuali di Sumatera Barat.
Padahal maksiat yang paling cepatkan Allah ta'alla datangkan azab yakni perilaku menyimpak seperti Kaum Sodom masa Nabi Luth itu
Kedahsyatan azab Allah tergambar dalam Surat Hud Ayat 82
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,
Benteng terkuat bagi anak-anak kita agar tidak terdampak oleh perilaku seks menyimpang LGBT itu adalah keluarga.
Salah satu masalah yang menjadi pemicu meningkatnya penyakit sosial itu yakni anak kehilangan figur ayah dalam kehidupannya. Para ayah dan ibu semakin sibuk dengan pekerjaan dan pergaulannya.
Silahkan sekolahkan anak di mana saja. Namun harus kuat pancang pendidikan dan hubungan orang tua dan anak di rumahnya.
Rasulullah mendidik anak dan cucunya dengan suri tauladan atau uswah hasannah dan kelembutan. Seperti kebiasaan Rasulullah mencium cucunya Hasan dan Husain
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ :أَنَّ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ الْحَسَنَ فَقَالَ إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ)) (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu : ia berkata:Bahwa Aqra’ bin Habis pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mencium Hasan.
Dia (Aqra’ bin Habis) lalu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak namun aku tidak pernah mencium satupun dari mereka.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi “(HR.Muslim)
Kalimat : “Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi." Sangat dalam maknanya.
Maka jika kita orangtua ingin di jari tua disayangi anak maka sebelum tua mari tunjukan kasih sayang kepada anak.
Kalau hati bertaut maka apa yang terjadi di antara anak dan orang tua itulah juga urusan hati. Rasulullah juga punya panggilan khusus dan sayang kepada istri-istrinya.
Ini pilar terpentingmemperkuat benteng keluarga yakni anak mengetahui orangtua-orangtua mereka menyayanginya maka tunjukanlah rasa sayang kepada anak.
Sang ibu bisa sebagai tempat berkeluh kesah sang anak. Tapi anak membutuhkan ketegasan dari seorang ayah. Agar anak memiliki kekuatan karakter.
Maka sesungguhnya ada 5 kaidah pendidikan dalam keluarga.
1. Siapa yang tidak pandai menyayangi maka dia tak akan disayangi.
Ucapkan kata yang menunjukkan sayang dan cinta kepada anak. Hindari kata "cilakuang" (celakalah kamu"
2. Berikan doa terbaik bagi anak
Ada 3 doa tak ditolak
1. Doa musyafir
2. Doa orang didholimi. Tidak ada batas antara orang didholimi dan Allah.
3. Doa orangtua terhadap anak. Seberapa pun sakitnya orangtua hindari keluar kata yang akan menjadi sebab anaknya susah di dunia dan akhiratnya.
Jadikan doa sebagai senjata untuk kegelisahan kita dari pengaruh dan dampak pergaulan anak-anak kita. Jangan sampai kita lebih percaya kepada para guru dan orabg untuk melindungi daripada kepada Allah.
Jika kita anak mengingat orangtua maka langsung telepon mereka karena bisa jadi mereka sedang rindu pada kita.
Biasakan doa untuk anak. Kapan pun ketoka kita rindu dan ingat anak kita. Bacalah buku parenting apapun namun doa orangtua tetaplah senjata utama
Untuk pendidikan jangan pernah berhitung karena itulah yang akan jadi bekal anak kita
Jika terlanjur pernah ucapkan hal buruk bagi anak maka orangtua minta ampun pada Allah lalu mendoakan anak terutama di waktu mustajab
Doa terbaik kepada anak yakni
Anak berbakti.
Membawa kita orangtuanya ke surga
Gabungkan ikhtiar maksimal dengan beri pendidikan bagi anak dan doa terbaik. Karena ridho Allah terletak pada ridho orangtua.
3. Hindari marah di kedepankan dalam mendidik anak.
Sebagaimana ketika seorang pemuda minta izin berzina kepada Rasulullah.
Abu Umamah Radhiyallahu anhu bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”. Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, “Diam kamu, diam!”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”.
“Tidak demi Allah, wahai Rasul” sahut pemuda tersebut.
“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika bibi (dari jalur bapakmu) dizinai?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika bibi (dari jalur ibumu) dizinai?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.
Setelah kejadian tersebut, pemuda itu TIDAK PERNAH lagi tertarik untuk berbuat zina”. [HR. Ahmad, shahih, Ash-Shahihah I/713 no. 370]
Dari hadits ini memberikan pelajaran bahwa Rasulullah tidak marah, namun menasihati dan mengajak diskusi pemuda tersebut. Mari ajak bicara anak-anak kita untuk memahamkan baik buruk kehendak dan keinginannya.
Terutama ketika anak usia SMP biasanya anak ingin diakui dan menarik perhatian orangtuanya.
4. Tanamkan adab kepada anak
Ajarkan rasa malu. Maka jika anak tak tutup aurat maka tunjukan rasa malu. Rasulullah memerintahkan memisahkan tempat tidur anak dan orangtua sebagai pelajaran rasa malu.
Kalau anak masuk ke kamar orangtua maka ketuk dulu agar anak tak melihat hal tak patut. Ini sebagai pembiasakan minta izin.
Sebab, kebanyakan pemicu penyimpangan LGBT karena tontonan atau apa yang dilihat anak.
5. Tanamkan aqidah kuat
Tanamkan rasa takut kepada Allah dan rasa harap hanya kepadaNya.
Masyarakat jangan jadi masyarakat tak peduli. Dulu ninik mamak malu jika ketahuan anak bersama lawan jenis.
Wallahuallam.(fir)
Selasa, 03 Desember 2019
30 KIAT SELAMAT DARI MAKSIAT
Kamis, 28 November 2019
SHALAT YANG TAK PERLU MENGHADAP KIBLAT
#firibook -- Ketika akan shalat menghadaplah ke kiblat (kakbah). Menghadap kiblat merupakan syarat sahnya shalat bagi orang yang mampu. Jika sengaja menyelisih syarat ini maka shalatnya batal.
Hanya saja ada beberapa kondisi shalat tak diwajibkan untuk menghadap ke kiblat. Sebagaimana dalam sebuah hadits
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَهُوَ مُقْبِلٌ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ عَلَى رَاحِلَتِهِ، حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ، قَالَ: وَفِيهِ نَزَلَتْ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ".
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas kendarannya kemana saja kendaraannya menghadap, yaitu ketika beliau datang dari Makkah menuju Madiinah. Dan pada peristiwa itu turun ayat : ‘ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah (QS. Al-Baqarah : 115)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 700].
Para ulama berbeda pendapat bolehnya shalat sunnah di atas kendaraan tanpa menghadap kiblat apakah berlaku umum atau hanya bagi musyafir saja.
Sebagian mengatakan hanya bagi musyafir saja. Alasannya dalam seluruh hadits tentang shalat Rasulullah di atas kendaraan ketika Rasulullah melakukannya saat syafar bukan ketika mukim.
Namun pendapat kedua menyatakan hal itu berlaku umum. Karena hukum asalnya dan tidak ada dalil khusus yang mengecualikan hanya untuk syafar.
Sebagaimana berlaku untuk masalah bacaan ayat oleh Rasulullah saat shalat sunnah boleh juga dibaca saat shalat fardu. Karena sesuatu yang boleh dilakukan shalat sunnah boleh untuk shalat fardu. Dan yang batalkan shalat fardu juga membatalkan shalat sunnah.
Pendapat kedua lebih dekat kepada kaidah fiqih. Sedangkan pendapat pertama lebih dekat kepada dalil.
---000---
Bagaimana gerakan shalat Rasulullah saat syafar. Disebutkan dalam hadits Bukhari yakni cukup dengan isyarat kecuali takbiratul ikhram.
Untuk gerakan sujud dengan isyarat gerakan lebih rendah. Sebagaimana dijelaskan hadis dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita,
بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ، فَجِئْتُ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ، وَيُومِئُ إِيمَاءً، السُّجُودُ أَخْفَضُ مِنَ الرُّكُوعِ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk melakukan suatu tugas. Ketika saya kembali menemui beliau, beliau sedang shalat di atas tunggangannya menghadap ke arah timur. Beliau berisyarat ketika rukuk dan sujud, dimana sujud lebih rendah dibandingkan rukuknya. (HR. Ahmad 14555, Turmudzi 352 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Rasulullah shalat menghadap kemana pun kendaraannya bergerak. Tidak mesti ke arah kiblat. Karena Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 115
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui
Kesimpulannya kita boleh shalat di atas kendaraan dan boleh tanpa menghadap kiblat.
Namun dalam salah satu hadits, Rasulullah kadang jika ingin shalat di atas kendaraan dia menghadapkan kendaraannya ke arah kiblat.
Sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ وَجَّهَهُ رِكَابُهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersafar dan ingin melaksanakan shalat sunnah lantas beliau mengarahkan kendaraannya ke arah kiblat. Kemudian beliau bertakbir, lalu beliau shalat sesuai arah kendaraannya.” (HR. Abu Daud, no. 1225. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).(bersambung/fir)
*) Catatan on the spot dari Taklim Rutin Rabu Pekan 2 & 4, Sifat Shalat Nabi Shallahu Alaihi Wasallam oleh Ust Budi Haryanto Lc Hafidzhahullah di Masjid Baabuttaubah Jl Parumpa Daya.